Green for World

GREEN FOR WORLD

Empowering Environmental Awareness for a Greener Tomorrow

Learn More
mkm.png

Quick Overview

Perilaku MKM Anda Berdampak Terhadap Kelestarian Lingkungan

Written by L. Indriati (Professional in the pulp and paper field; Environmentalist) on May 16, 2026

Menstruasi pada wanita merupakan suatu keniscayaan, yaitu suatu peristiwa alam yang terjadi pada saat seorang wanita mencapai usia dewasa, khususnya karena terjadinya perubahan pada organ reproduksi wanita. Artikel ini tidak terkait dengan bagaimana perubahan organ reproduksi atau perubahan hormonal ataupun kondisi fisik wanita terkait menstruasi, tetapi lebih kepada bagaimana wanita mengatur dirinya selama mengalami menstruasi tersebut. Istilah yang paling dikenal untuk hal ini adalah Manajemen Kebersihan Menstruasi, atau disingkat MKM. 

Menstruasi merupakan hal yang wajar bagi wanita usia subur (WUS), usia 15-49 tahun; ditandai dengan keluarnya cairan menstruasi secara periodik selama waktu tertentu, biasanya 3-5 hari pada setiap bulan atau periode tertentu. Namun demikian, hal ini dapat menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan jika wanita tidak siap menghadapinya dan lingkungannya tidak memberikan dukungan yang memadai. Kesehatan menstruasi mempengaruhi kualitas hidup wanita karena berpotensi mempengaruhi kesehatan (reproduksi dan kehamilan), partisipasi pendidikan, dan dalam jangka panjang bahkan mempengaruhi partisipasi kerja. Saat menstruasi, perempuan perlu menjaga kebersihannya. MKM menunjukkan bagaimana seorang wanita menjaga agar dirinya tetap bersih dalam menangani cairan menstruasi, seperti penggunaan penyerap untuk menampung cairan menstruasi, frekuensi penggantian penyerap, serta penanganan penyerap bekas pakai dan pembersihan tubuh atau bagian tubuh yang terpapar selama penanganan.

Diantara berbagai jenis bahan penyerap yang tersedia, yang banyak digunakan saat ini adalah pembalut sekali pakai yang dirancang untuk langsung dibuang setelah digunakan. Namun demikian terdapat kebiasaan yang unik di Indonesia yaitu kebiasaan wanita mencuci pembalut sekali pakai sebelum pembalut bekas dibuang. Terdapat pro dan kontra terkait perilaku ini; namun pada dasarnya hal ini lebih dikaitkan dengan mitos yang berkembang di masyarakat yang menyatakan bahwa apabila pembalut bekas dibuang tanpa menghilangkan cairan menstruasi terlebih dahulu akan mengundang makhluk yang tidak diinginkan. Terlepas dari mitos tersebut, pencucian pembalut bekas pakai berpotensi menimbukan resiko terhadap kesehatan dan lingkungan.

Suatu penelitian telah dilakukan untuk menganalisa kualitas air cucian pembalut bekas. Hasilnya menunjukkan kandungan COD dan padatan total yang lebih tinggi daripada greywater (limbah cair cucian dan kamar mandi), bahkan padatan total lebih tinggi daripada blackwater (limbah cair toilet). Air cucian pembalut bekas juga berpotensi tinggi untuk ditumbuhi oleh mikroba yang berpengaruh terhadap kesehatan lingkungan. Pencucian pembalut bekas secara manual juga berisiko terhadap kesehatan karena potensi perpindahan bakteri dari pembalut bekas ke tangan dan area tempat mencuci pembalut bekas.

Indonesia yang mayoritas penduduknya beragam Islam, tidak ada petunjuk khusus terkait pencucian cairan menstruasi ini. Perspektif Islam dalam hal kesehatan wanita pada dasarnya terkait dengan prinsip-prinsip kebersihan, kesehatan dan kesucian yang merupakan bagian integral dari MKM. Meskipun demikian, pencucian pembalut bekas yang mengandung cairan menstruasi sebelum dibuang, secara umum dianggap tidak higienis dan menimbulkan risiko kesehatan.

Selain itu, limbah padat pembalut bekas setelah dicuci yang dibuang ke lingkungan juga berpotensi terhadap kesehatan lingkungan. Saat ini, Indonesia telah memiliki kebijakan penanganan limbah padat pembalut yang bersumber dari fasilitas pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, klinik kesehatan, puskesmas dan lainnya. Namun belum ada kebijakan khusus untuk limbah padat pembalut yang besumber dari kegiatan rumah tangga. Selama ini, limbah padat pembalut bekas yang bersumber dari kegiatan rumah tangga dikategorikan sebagai sampah residu yang tidak memiliki nilai dan penanganannya langsung dikirim ke TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) sebagai landfill. Komponen yang terkandung dalam pembalut sekali pakai lebih dari 45% adalah plastik yang di lingkungan sulit terurai secara alami dan memerlukan waktu ratusan tahun. Dapat Anda bayangkan jika saja 97% pengguna pembalut sekali pakai dengan konsumsi rata-rata 16,5 pembalut/bulan, maka dalam sebulan sebanyak 1,2 milyar pembalut bekas akan dibuang ke lingkungan. Berdasarkan jumlah penduduk wanita Indonesia tahun 2024 sebesar 73,6 juta jiwa, jika berat pembalut bekas sekitar 35 gram/pembalut, maka setidaknya akan ada 42.000 ton sampah pembalut bekas setiap bulannya yang dibuang ke lingkungan dan masuk ke landfill di TPA, dan akan bertahan selama ratusan tahun di dalam tanah tanpa bisa terurai secara alami.

Nah, bagaimana menurut Anda dengan gambaran diatas? Sebagai wanita, apakah yang Anda lakukan selama ini sudah cukup baik untuk TIDAK menjadi beban bagi lingkungan? Yuk para wanita, mari introspeksi diri apa yang sudah Anda lakukan untuk menjaga kelestarian bumi ini dari hal sepele kegiatan sehari-hari. 

Tinggalkan Komentar

Komentar

2
A
Ade K. Hidayat
13 May 2026, 03:49
Wah sangat bagus sekali artikel nya
Footer Gradient Example